Example 325x300

Kucing Nak Jadi Harimau

Oleh : Affan Bey Hutasuhut

Beberapa bulan belakangan ini kerap terdengar kabar generasi muda di negeri Jiran Malaysia dah malu berbahasa Melayu. Mereka lebih memilih berbahasa Indonesia yang dinilai lebih mudah difahami karena masih serumpun jika dibanding dengan etnis China dan India yang banyak tinggal di sana.

Example 325x300

Selain itu, sebagian warga Malaysia suka menonton beragam hiburan serta sinetron dari Indonesia yang ditayangkan oleh TV Lokal Melayu. Radio Melayu bahkan sering memutar lagu Indonesia, mereka juga biasa mendengar Bahasa Indonesia saat menonton Youtube dan media sosial lainnya seperti tik-tok.

Kencangnya arus gelombang ini membuat warga Malaysia, khususnya generasi muda, makin terpesona untuk menggunakan Bahasa Indonesia belakangan ini.

Menurut Ahmad Dahlan, anak melayu yang pernah dua kali menjadi Walikota Batam, Bahasa Indonesia dipandang lebih kuat dan formal di mata anak melayu. Penulis Buku “Sejarah Melayu” ini mencontohkan, dalam bahasa Indonesia “Mau kemana?”, Melayu “Nak Kemane?, agak mendayu-dayu santai.

Menggeliatnya penggunaan Bahasa Indonesia di Malaysia tentu saja membuat khalayak ramai yang tak setuju menjadi risau. Seorang diantaranya Daniel Isaac.

“Jangan heran kalau anak-anak sekarang 10 tahun lagi semua pakai bahasa Indonesia. Orang luar datang Sabah ingat salah naik pesawat pergi Jakarta. Anak buah saya sebut ‘ketam’ pun ‘kepiting’. Bawa pergi kedai pun dia balik “mari ke toko’,” tulis Daniel I.

“Tolong info anak2 kamu ya guys. Perdana Menteri Malaysia masih Ismail Sabri. Bukan Joko Widodo,” tulis Daniel Isaac di Facebook.

Namun Ahmad Dahlan meyakini ini hanya trend semata. “Saya kira hal ini trend seketika saja. Tidak akan kekal. Untuk bahasa formal sehari-hari, misalnya dalam rapat-rapat , Radio, TV, dll, semuanya berbahasa logat Melayu.

Orang Melayu Singapura misalnya, tambah Dahlan, apabila anak muda berbahasa Inggris kepada orang tua orang tua, itu tidak sopan. Harus berbahasa Melayu. Kecuali ada orang tua yang berbahasa Inggris kepada anak muda, baru direspon dgn English juga “Jadi anak muda Malaysia tidak akan berbahasa Indonesia kepada orang tua. Itu tidak sopan,” ungkap tokoh masyarakat Batam kelahiran Batu Besar Batam ini.

Lingua Franca

Dalam Buku “Sejarah Melayu” yang ditulis oleh Ahmad Dahlan disebutkan bahwa pada masa jayanya Kesultanan Melaka sebagai Bandar niaga tersohor di abad 14-15, peranan bahasa melayu sangat penting. Bahasa Melayu tergolong sebagai Lingua Franca atau bahasa pergaulan internasional.

Makanya para peniaga yang datang dari Eropa, China, India, Arab, dan bangsa lainnya jika datang berniaga ke Melaka bercakap dan bertransaksi dengan bahasa Melayu.

Namun seiring runtuhnya Kesultanan Melaka yang takluk kepada Portugis, penggunaan bahasa Melayu hanya berkembang di kawasan semenanjung Melayu seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, Patani Thailand, Mindanao di Filipina, Indonesia seperti di Kepulauan Riau dan lainnya.

Sebagai anak Kepulauan Riau, Ahmad Dahlan bangga justru budak-budak, anak dara hingga para perjaka masih kental nuansa melayunya di daerahnya.

“Kami di Kepri pada umumnya senantiasa berbahasa Melayu. Dan bangga berbahasa Indonesia dialeg Melayu. Bahkan tatkala merantau pun, kami tetap berbahasa Melayu. Di Yogya misalnya kami akrab dengan kawan-kawan dari Malaysia, Thailand Selatan, Kalimantan Barat, Riau (pesisir Timur) dan daerah yg berbahasa Melayu.

Sikap masyarakat di Kepulauan Riau ini layak jadi teladan. Sebab Pendekar Hang Tuah semasa menjadi Laksamana di Kesultanan Melaka pernah berteriak lantang “Melayu Tak Hilang di Bumi”, “Esa Hilang, Dua Terbilang”, “ Patah Tumbuh Hilang Berganti”

Petuah Hang Tuah ini masih dijaga betul di Kepulauan Riau mulai dari bahasa hingga budayanya. Mereka berbahasa Indonesia hanya dalam suasana formal, misalnya di kantor pemerintahan.

Menyimak keteguhan Hang Tuah dan keteguhan puak Melayu di Kepulauan Riau menjaga Budaya Melayu ini, seyogyanya para generasi muda di Malaysia tak perlu malu berbahasa Melayu dalam kesehariannya,

Sila berbahasa Indonesia, Inggris, China, India, dan lainnya dalam konteks pergaulan internasional.

Pertahankan jati diri, jangan menjadi orang lain. “Kalau Kucing sudah Cekatan Menangkap Tikus, untuk apa lagi menjadi Harimau. Dan kalau semuanya mau menjadi harimau, kapan lagi kita mendengar merdunya kicauan Murai Batu. (Penulis adalah Wartawan Senior Provinsi Sumut)